Bioskop di Purbalingga sumber festivalfilmpurbalingga blogspot

Kamu Harus Tahu 6 Fakta Keren Tobong Film Bobotsari, Indra Theater

bioskop-film-purbalingga

DOLAN PURBALINGGA – Jauh-jauh hari sebelum Purbalingga dikenal sebagai Kota Film Pendek, Kota Perwira ini diramaikan oleh kehadiran bioskop. Setidaknya da ada tiga bioskop yang terkenal puluhan tahun lalu.

Sekitar lima puluh tahun lalu, pusat kota Purbalingga ada dua gedung pemutaran film bernama Rayuan dan Braling Theater, maka di Bobotsari ada Indra Theater yang jadi andalan warga untuk menonton sinema terbaru.

Jangan bayangkan bioskop jadul di Purbalingga itu sudah rapi, wangi dan punya kursi empuk. Bioskop zaman dulu itu cuma berwujud gedung besar yang berisi bangku dan lalu lalang penjual kacang bawang yang berkeliling menawarkan dagangannya sebagai peneman nonton film.

Kali ini, yang bakal dibahas adalah Indra Theater yang berada di belakang Kantor Pos Bobotsari. Kini, bangunan bercat putih tampak rusak disana-sini. Belum keseluruhan permanen. Bagian atas masih menggunakan gedheg dan papan serta ventilasi berupa anyaman kawat.

Dari cerita Anita Wiryo Rahardjo bersama Naenah dan Sujadi, yang tidak lain adalah anak dan menantu Si Empunya Bioskop di blognya Langgam Langit Sore, mari kita lihat fakta-fakta yang menarik sekaligus lucu dari eksistensi bioskop terbesar di Bobotsari, Indra Theater.

Theater yang sangat berjaya itu berasal dari tobong ketoprak, yang berubah fungsi

Indra Theater itu merupakan usaha milik S Hari. Menantu dari S Hari, Sujadi bercerita kalau awalnya Hari yang membangun tobong ketoprak. Seperti diketahui bersama, ragam kisah panji ataupun babad memang menjadi tontonan merakyat pada sekitar tahun 50 – 60’an. Tren yang membuat tobong ini alih fungsi menjadi bioskop.

Keberadaan tobong pernah diceritakan oleh Pak Kasmad, Juru Kunci Makam Watu Lawang di Desa Kalapacung, Bobotsari. “Sengiyen malah ceritane nggih babad mriki-an mawon koh sing dipentasaken. Kula ngertos critane Onje nggih saking tobong sing terus dados Indra nika,” kata Pak Kasmad.

bioskop-film-purbalingga
(Sumber: langgamlangitsore.blogspot.com)

Meski nggak ada yang tahu secara pasti, kemungkinan Indra Theater dibangun tahun 60’an

Cukup sulit untuk menangkap rentetan kisah masa lampau yang sepertinya banyak terlupa oleh Sujadi dan Naenah. Tak adanya bukti foto di masa lalu yang tertinggal, sehingga sulit meraba seperti apa suasana pada waktu itu.

Sembari menyeruput teh panas yang dihidangkan, tetiba seseorang dari dalam sana berkata, “Kayane tahun 60, bioskope kuwe esih nganggo welit“.

Bangunan Indra Theater memang terbilang sederhana. Uniknya lagi, Indra menjadi satu-satunya bioskop di Purbalingga yang memiliki jarak kelir ke bangku terpanjang. “Jadi yang belakang sendiri kalau malam sudah nggak jelas nontonnya”, tambah Sujadi.

Bayangkan saja memutar film tetapi di Bobotsari belum ada listrik hingga tahun 70-an

Bagi yang suka dengan hiburan, film India disebut-sebut menjadi favorit bagi banyak penonton Indra Theater. Alasannya jelas; murah dan mainnya lama.

Yang lebih nggilani lagi, Indra Theater di masa-masa awal berdiri pun mesti mengalami sulitnya menjadi bioskop yang belum dialiri listrik. Bayangkan seperti apa sensasinya.

“Di wilayah sini tahun 70’an belum listrik. Untuk muter film pakai diesel. Jadi untuk pemutaran terakhir begitu film selesai semua gelap”, tambah Naenah.

bioskop-film-purbalingga-bobotsari
(sumber: langgamlangitsore.blogspot.com)

Indra Theater juga melakukan kerjasama dengan bioskop Rayuan, demi menjaga eksistensi

Urusan pemutaran film, Indra Theater membangun koneksi dengan bioskop lain. “Kerjasamanya sama (bioskop) Garuda (Purwokerto). Nah Garuda ini kan juga ngedrop film ke Rayuan. Jadi pertama tayang di Garuda, terus dianter ke Rayuan baru terakhir main di Indra,”

Pemutaran salah satu judul film baru di Indra Theater biasanya dimulai pukul 16.00. Ini dilakukan beberapa jam setelah pemutaran di Rayuan kelar. Film yang masih dalam bentuk roll diantar dengan sepeda motor. Waaahhh… sepertinya Janji Joni banget!

Indra Theater punya tiga kali jam putar dan film yang paling hits adalah …

Indra Theater memiliki 3 jam putar. Yaitu pukul 16.00, 19.00 dan 21.00. Semua jam sama ramainya. Terlebih jika film India ataupun Rhoma Irama. Mereka tak peduli jika Indra Theater ini hanya menyediakan fasilitas bangku panjang, jarak kelir ke bangku belakang yang terlalu panjang hingga lalu lalang pedagang makanan.

“Ya kan penjual kacang bawang juga pengen nonton. Bayar tiket kok mereka, masak dilarang masuk. Masalah didalem sambil jualan ya mau gemana lagi”, kata mereka sembari terkekeh. Kacang bawang, Jenang Jae dan Orak-arik menjadi icon “bonus menu” nonton di Indra Theater. Hmmmm…. jagung berondong tidak tersedia ya ?

Indra Theater itu pernah ambruk, salah satu penyebabnya adalah hujan angin

Satu kejadian tak mengenakkan pernah dialami bioskop ini. Hujan angin pada suatu malam membuat bangunan roboh. Mereka memperkirakan ini terjadi pada kisaran 80’an.

Namun karena masih ramai maka bioskop kembali beroperasi. Barulah saat televisi merajai rumah-rumah warga, usaha gedung pemutaran film tersendat dan pelan-pelan tutup. Tahun berapa pastinya, sayang tak mudah diingat.

Wah keren banget kan kisah Indra Theater, Sang Bioskop Tersohor dari Bobotsari. Mantap banget mbok.

1 Comment

  1. Joni

    - 4 November 2017

    Pada tahun 80 an Indra Teater paling top, apalagi film india sama Warkop DKI, tiketnya 200 perak, Tp masih anak anak 200 perak sj ngumpulinnya sampai seminggu… 🙂
    Top banget lah

Leave a Comment

Your email address will not be published.