Pos

Ini yang Dicari Generasi Milenial Ketika Memutuskan untuk Traveling

dolan purbalingga

DOLAN PURBALINGGA – Gaya traveling generasi milenial jauh berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Generasi yang lahir di tahun 1980-2000 ini sudha jadi raja di dunia traveling. Baik itu pariwisata dalam mau pun luar negeri.

Salah satu pengeluaran terbesar generasi milenial ialah untuk traveling. Kaum milenial selalu antusias untuk berwisata, sekalipun kondisi keuangan sedang pas-pasan.

Buat anak-anak milenial, liburan bukan cuma untuk memenuhi hasrat akan hiburan dan pemenuhan kebutuhan. Tetapi sudah jadi sarana untuk meningkatkan produktivitas mereka.

Kok bisa? Iya. Soalnya kaum millennial kan lebih banyak mendapat tekanan, terutama dalam hal pekerjaan. Jadi, mereka memilih berlibur biar menemukan banyak ide baru dan good mood.

Karena itu, mereka nggak cuma asal traveling dengan niat untuk datang ke destinasi wisata yang hits. Namun, para milenial juga punya kategori sendiri untuk urusan memilih destinasi wisata tujuan mereka.

Apa saja yah yang dicari generasi millennial dalam menentukan destinasi berlibur? Yuk simak ulasan teranyar dari Dolan Purbalingga ini. Yo yo ayo. Yo ayo.

Keindahan alam yang hijau dan asri selalu jadi magnet bagi kaum milenial untuk segera traveling.

Generasi milenial selalu jatuh cinta dengan cantiknya panorama alam. Mereka rela menjelajah jauh kepedalaman dan nggak dikenal, hanya untuk menikmati bahagianya berinteraksi dengan alam yang indah.

Berbagai destinasi wisata di Indonesia bagian timur menjadi primadona bagi generasi milenial untuk menikmati wisata alam. Mereka menemukan inspirasi wisata alam di instagram atau blog.

Kalau susah atur waktu ke Raja Ampat atau Sumba, Purbalingga juga punya banyak destinasi wisata alam yang sangat patut jadi destinasi wisata favorit kok. Bahkan banyak banget pilihannya.

Mulai dari tubbing di Sungai Tungtung Gunung yang ada di Desa Limbasari, Kecamatan Bobotsari, memanjat tebing Curug Aul di Desa Tanalum, Kecamatan Rembang, sampai camping eksotis di Desa Serang, Kecamatan Karangreja.

Generasi milenial juga jatuh cinta pada destinasi wisata yang memiliki nuansa sejarah.

Karena itu, nggak heran kalau banyak dari para milenial yang memilih berwisata ke luar negeri. Seperti Turki, Hungaria, hingga Republik Ceko demi menikmati eksotisme bangunan yang penuh dengan romantisme sejarah.

Berbagai kota di Indonesia juga sudah mulai menawarkan pilihan destinasi wisata berbasis heritage. Berbagai destinasi berkonsep kota lama bermunculan. Seperti muncul di Jakarta dan Semarang.

Meskipun belum populer dan dikelola dengan optimal, Purbalingga juga punya destinasi wisata sejarah yang menarik untuk dicoba. Seperti berbagai museum di Sanggaluri Park sampai bangunan sejarah warisan era kolonial.

Pokoknya seru loh menikmati nuansa wisata kota lama di Purbalingga. Kapan-kapan bisa kita dolan bareng ke kota lama di Purbalingga yah.

Milenial juga sangat menyukai sebuah tempat yang menampilkan keunikan arsitektur maupun pengalaman.

Bentuk keunikan yang dimaksud di sini memang bukan cuma soal arsitektur bangunan, yang bisa dijadikan background selfie. Tetapi juga keunikan atraksi yang ada di tempat itu.

Jadi keunikan itu bisa juga berupa menikmati kuliner yang hanya ada di kota itu atau menonton festival yang juga hanya ada di kota itu. Keunikan itu memberikan pengalaman sekaligus inspirasi positif buat milenial.

Kalau di Purbalingga sih banyak yah yang unik dan Purbalingga banget. Kalau kuliner ada Es Duren Bancar, Sroto Klamud, sampai Duku Kalijaran. Kalau tempat sih ada nuansa dingin yang nyesss di Desa Wisata Serang.

Wah sudah tentu generasi milenial nggak pernah melepaskan momen menikmati budaya yang kental di sebuah kota.

Atraksi budaya adalah konten yang paling mudah membuat materi post yang instagramable. Karena itu, wajar saja kalau Jepang dan Korea Selatan menempati tujuan destinasi favorit.

Dua negara itu punya jadi destinasi wisata idaman karena punya banyak pilihan produk budaya yang unik, lengkap dan bikin milenial pensaran. Banyak loh milenial Indonesia yang memasukan dua negara itu sebagai ‘list destination’.

Nah, kalau di wisata budaya ke Purbalingga? Banyak dong produk budaya yang unik dan menarik. Misalnya saja ada seni ebeg alias kuda kepang, mencari ikan lembutan (kecil-kecil) di Sungai Klawing hingga aksi pencak jawa di Desa Majapura.

Itu dia beberapa pertimbangan dari generasi milenial saat memilih destinasi wisata favoritnya. Karena buat kaum milenial, wisata memang nggak cuma wajib Instagramable, tapi juga memberikan pengalaman yang tak terlupakan.

Mereka bukan cuma suka mengunggah foto liburan namun juga berbagi pengalaman dan referensi berlibur. Begitu kan kanca dolan?

Dan semua kategori traveling ala generasi milenial itu ada di Purbalingga. Kanca dolan tinggal pilih mau berwisata kemana, karena Purbalingga akan menyediakannya.

Atau kanca dolan malah sudah punya referensi destinasi wisata hits di Purbalingga yang nggak boleh dilewatkan? Yuk berbagi di kolom komentar. Siapa tahukan ada kanca dolan lainnya yang sedang cari inspirasi buat Dolan Purbalingga.

7 Hal yang Membuat Purbalingga Terkenal di Indonesia Bahkan Dunia

DOLAN PURBALINGGA – Purbalingga semakin dikenal sebagai salah satu destinasi wisata hits di Jawa Tengah. Ini karena Purbalingga menyimpan banyak tempat wisata menarik untuk dikunjungi. Mulai dari wisata buatan, wisata alam, wisata religi, hingga desa wisata.

Tetapi, sebelum Purbalingga dikenal oleh sebagai destinasi wisata keren, Purbalingga sebenarnya sudah lebih masyarakat Indonesia bahkan dunia melalui tokoh, bangunan bahkan tempat yang tidak melulu berhubungan dengan pariwisata.

Kali ini, Dolan Purbalingga bakal mengulas 7 Hal yang Membuat Purbalingga Terkenal di Indonesia Bahkan Dunia. Yuh maca yuh…

Jiwa patriotisme Jenderal Soedirman tidak hanya inspirasi nasionalisme Indonesia, tetapi juga mengharumkan nama Purbalingga.

Semua orang sudah tahu kalau Jenderal Besar Soedirman lahir di Desa Bantarbarang, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga pada tahun 1916. Replika tempat tinggalnya dulu telah dijadikan Museum Tempat Lahir (MTL) Jenderal Soedirman.

Jenderal Soedirman itu panglima besar Tentara Nasional Indonesia pertama yang punya jiwa patriot dan taat beribadah. Dia merupakan orang yang rela berjuang dan bergerilya demi menjaga negara Indonesia tetap kokoh, meski ia sedang sakit.

Berkat karakter patriot dan nasionalismenya yang kuat itu, orang yang bangga dengan Jenderal Soedirman bukan hanya orang Purbalingga loh, namun juga masyarakat di Indonesia ini.

pengembangan-wisata-goa-lawa-owabong-purbalingga

(sumber: owabong.co.id)

Owabong membuat Purbalingga menjadi destinasi wisata hits di Jawa Tengah, malah sekarang banyak yang menirunya.

Owabong yang berarti Obyek Wisata Bojongsari ini tadinya kolam renang biasa saja, tetapi kemudian diubah oleh Bupati Purbalingga Triyono Budi Sasongko sebagai waterpark yang keren dan terkenal banget.

Nggak heran kalau banyak wisatawan dari Pulau Jawa dan juga Indonesia yang datang untuk menikmati wisata air buatan yang ada di Desa Bojongsari, Kecamatan Bojongsari, Purbalingga ini. Apalagi airnya dari mata air yang seger puol.

Nah, akhir tahun ini, Owabong Waterpark siap merilis sejumlah wahana wisata baru yang keren. Yakni ada Coralia 3. Kabarnya, di Indonesia cuma Owabong Waterpark yang punya wahana menantang ini. Berani coba?

 

sumanto-berita-purbalingga

Aksi Nggilani Sumanto yang menjadi memakan mayat membuat geger Purbalingga bahkan dunia, sampai sekarang masih banyak bule yang penasaran.

Orang mengenal Sumanto berkat aksinya yang tidak masuk akal, yakni memakan mayat manusia. Berkat aksinya itu, Sumanto disebut sebagai Sumanto Si Kanibal dari Purbalingga.

Saking terkenalnya, saat orang menyebut kata “Purbalingga” maka yang teringat langsung Sumanto. Seolah-olah, Sumanto adalah Purbalingga dan Purbalingga adalah identik. Kalau boleh jujur, masih belum ada yang mengalahkan ikon yang satu ini.

Sekarang ini, Sumanto tinggal di rumah sakit jiwa milik KH Supono atau yang lebih dikenal sebagai Mbah Pono Mustajab. Meski belum waras betul, Sumanto kerap ikut mengisi pengajian Kyai Supono.

 

foto-sumber-otosia-com

Meskipun dibuat secara manual dengan tangan, Knalpot dari Purbalingga punya kualitas yang bisa diadu dengan knalpot pabrikan.

Patung manusia sedang membuat knalpot di pertigaan menuju Jalan Jenderal DI Panjaitan, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah adalah simbol Purbalingga sebagai produsen knalpot terbesar di Indonesia.

Mulanya produsen knalpot terpusat di Dusun Pesayangan, Kelurahan, Purbalingga Lor, Kecamatan Purbalingga. Di sana, banyak banget pembuat aneka produk knalpot mobil maupun motor. Bahkan, mereka juga menerima pesanan membuat gamelan dari logam kuningan.

Industri rumahan knalpot Purbalingga sudah menyebar ke sejumlah wilayah kecamatan. Sekarang ini, tidak sedikit juga anak muda Purbalingga yang berbisnis knalpot secara online. Alhasil, knalpot Purbalingga semakin terkenal.

 

Bulu mata dan rambut palsu yang dibuat di Purbalingga sudah lama merajai bisnis bulu mata di dunia, bahkan kabarnya artis Holywood juga menggunakan bulu mata palsu Purbalingga

Madonna dan Katy Perry dari Hollywood sampai Olga Lydia dan gadis-gadis Cherrybelle merupakan bukti betapa lentik bulu mata buatan dari Purbalingga telah menyihir dunia. Penampilan mereka juga semakin cantik.

Bulu mata dan rambut palsu menghidupi ribuan warga Purbalingga, selama bertahun-tahun. Terutama bagi mereka yang menjadi Kaum Hawa. Tidak heran kalau, pabrik-pabrik bulu mata dan rambut palsu selalu diminati.

 

Bandara Jenderal Besar Soedirman bakal membuat semakin banyak orang datang ke Purbalingga. Akhirnya, Purbalingga semakin terkenal.

Nota kesepakatan atau bahasa kerennya MoU antara berbagai pihak yang berkenaan dengan pembangunan Bandara Jenderal Besar Soedirman sudah ditandatangani Jumat 11 November 2017 di Jakarta loh. Kalau sesuai target, pembangunan akan dimulai akhir tahun ini.

Pemerintah Kabupaten Purbalingga sih kepenginnya bandara komersil yang dikelola Angkasa Pura (AP) II ini bisa diresmikan pada 18 Desember 2018. Pas banget sama Hari Ulang Tahun Kabupaten Purbalingga di tahun depan. Pemkab lagi melobi Presiden Joko Widodo untuk meresmikannya.

 

ffp-purbalingga

Sineas muda Purbalingga yang konsisten menghasilkan film-film pendek yang keren membuat Purbalingga jadi parameter film pendek di Indonesia, keren!

Sineas muda dari Kabupaten Purbalingga beraksi dengan dikawal oleh Cinema Lovers Community (CLC) dan juga Festival Film Purbalingga. Meski nggak punya kampus, pelajar SMP dan SMA di Purbalingga telah membuktikan bahwa mereka punya skill yang keren.

Karena konsistensinya dalam memproduksi film dengan tema menarik dan berbahasa Banyumasan, film pendek dari Purbalingga banyak memenangi festival film di berbagai kota. Bahkan, banyak komunitas film di Indonesia yang terinspirasi dengan dinamika film pendek di Purbalingga.

Bagaimana hayo, keren juga yah Purbalingga. Di luar pariwisata yang sedang ngehits di Purbalingga, juga banyak potensi yang sudah membuat Purbalingga dikenal di Indonesia dan juga dunia. Ya, kalau soal Sumanto sih kayaknya nggak dihitung yah. Hihihi…

Atau malah kamu punya ikon yang lain? Yuk share bareng dengan komentar di yang kece di kolom yang tersedia. Ayo Dolan Purbalinga!

Kamu Harus Tahu 6 Fakta Keren Tobong Film Bobotsari, Indra Theater

bioskop-film-purbalingga

bioskop-film-purbalingga

DOLAN PURBALINGGA – Jauh-jauh hari sebelum Purbalingga dikenal sebagai Kota Film Pendek, Kota Perwira ini diramaikan oleh kehadiran bioskop. Setidaknya da ada tiga bioskop yang terkenal puluhan tahun lalu.

Sekitar lima puluh tahun lalu, pusat kota Purbalingga ada dua gedung pemutaran film bernama Rayuan dan Braling Theater, maka di Bobotsari ada Indra Theater yang jadi andalan warga untuk menonton sinema terbaru.

Jangan bayangkan bioskop jadul di Purbalingga itu sudah rapi, wangi dan punya kursi empuk. Bioskop zaman dulu itu cuma berwujud gedung besar yang berisi bangku dan lalu lalang penjual kacang bawang yang berkeliling menawarkan dagangannya sebagai peneman nonton film.

Kali ini, yang bakal dibahas adalah Indra Theater yang berada di belakang Kantor Pos Bobotsari. Kini, bangunan bercat putih tampak rusak disana-sini. Belum keseluruhan permanen. Bagian atas masih menggunakan gedheg dan papan serta ventilasi berupa anyaman kawat.

Dari cerita Anita Wiryo Rahardjo bersama Naenah dan Sujadi, yang tidak lain adalah anak dan menantu Si Empunya Bioskop di blognya Langgam Langit Sore, mari kita lihat fakta-fakta yang menarik sekaligus lucu dari eksistensi bioskop terbesar di Bobotsari, Indra Theater.

Theater yang sangat berjaya itu berasal dari tobong ketoprak, yang berubah fungsi

Indra Theater itu merupakan usaha milik S Hari. Menantu dari S Hari, Sujadi bercerita kalau awalnya Hari yang membangun tobong ketoprak. Seperti diketahui bersama, ragam kisah panji ataupun babad memang menjadi tontonan merakyat pada sekitar tahun 50 – 60’an. Tren yang membuat tobong ini alih fungsi menjadi bioskop.

Keberadaan tobong pernah diceritakan oleh Pak Kasmad, Juru Kunci Makam Watu Lawang di Desa Kalapacung, Bobotsari. “Sengiyen malah ceritane nggih babad mriki-an mawon koh sing dipentasaken. Kula ngertos critane Onje nggih saking tobong sing terus dados Indra nika,” kata Pak Kasmad.

bioskop-film-purbalingga

(Sumber: langgamlangitsore.blogspot.com)

Meski nggak ada yang tahu secara pasti, kemungkinan Indra Theater dibangun tahun 60’an

Cukup sulit untuk menangkap rentetan kisah masa lampau yang sepertinya banyak terlupa oleh Sujadi dan Naenah. Tak adanya bukti foto di masa lalu yang tertinggal, sehingga sulit meraba seperti apa suasana pada waktu itu.

Sembari menyeruput teh panas yang dihidangkan, tetiba seseorang dari dalam sana berkata, “Kayane tahun 60, bioskope kuwe esih nganggo welit“.

Bangunan Indra Theater memang terbilang sederhana. Uniknya lagi, Indra menjadi satu-satunya bioskop di Purbalingga yang memiliki jarak kelir ke bangku terpanjang. “Jadi yang belakang sendiri kalau malam sudah nggak jelas nontonnya”, tambah Sujadi.

Bayangkan saja memutar film tetapi di Bobotsari belum ada listrik hingga tahun 70-an

Bagi yang suka dengan hiburan, film India disebut-sebut menjadi favorit bagi banyak penonton Indra Theater. Alasannya jelas; murah dan mainnya lama.

Yang lebih nggilani lagi, Indra Theater di masa-masa awal berdiri pun mesti mengalami sulitnya menjadi bioskop yang belum dialiri listrik. Bayangkan seperti apa sensasinya.

“Di wilayah sini tahun 70’an belum listrik. Untuk muter film pakai diesel. Jadi untuk pemutaran terakhir begitu film selesai semua gelap”, tambah Naenah.

bioskop-film-purbalingga-bobotsari

(sumber: langgamlangitsore.blogspot.com)

Indra Theater juga melakukan kerjasama dengan bioskop Rayuan, demi menjaga eksistensi

Urusan pemutaran film, Indra Theater membangun koneksi dengan bioskop lain. “Kerjasamanya sama (bioskop) Garuda (Purwokerto). Nah Garuda ini kan juga ngedrop film ke Rayuan. Jadi pertama tayang di Garuda, terus dianter ke Rayuan baru terakhir main di Indra,”

Pemutaran salah satu judul film baru di Indra Theater biasanya dimulai pukul 16.00. Ini dilakukan beberapa jam setelah pemutaran di Rayuan kelar. Film yang masih dalam bentuk roll diantar dengan sepeda motor. Waaahhh… sepertinya Janji Joni banget!

Indra Theater punya tiga kali jam putar dan film yang paling hits adalah …

Indra Theater memiliki 3 jam putar. Yaitu pukul 16.00, 19.00 dan 21.00. Semua jam sama ramainya. Terlebih jika film India ataupun Rhoma Irama. Mereka tak peduli jika Indra Theater ini hanya menyediakan fasilitas bangku panjang, jarak kelir ke bangku belakang yang terlalu panjang hingga lalu lalang pedagang makanan.

“Ya kan penjual kacang bawang juga pengen nonton. Bayar tiket kok mereka, masak dilarang masuk. Masalah didalem sambil jualan ya mau gemana lagi”, kata mereka sembari terkekeh. Kacang bawang, Jenang Jae dan Orak-arik menjadi icon “bonus menu” nonton di Indra Theater. Hmmmm…. jagung berondong tidak tersedia ya ?

Indra Theater itu pernah ambruk, salah satu penyebabnya adalah hujan angin

Satu kejadian tak mengenakkan pernah dialami bioskop ini. Hujan angin pada suatu malam membuat bangunan roboh. Mereka memperkirakan ini terjadi pada kisaran 80’an.

Namun karena masih ramai maka bioskop kembali beroperasi. Barulah saat televisi merajai rumah-rumah warga, usaha gedung pemutaran film tersendat dan pelan-pelan tutup. Tahun berapa pastinya, sayang tak mudah diingat.

Wah keren banget kan kisah Indra Theater, Sang Bioskop Tersohor dari Bobotsari. Mantap banget mbok.

Cerita Rakyat Mengenai Asal Mula Cibuek di Majatengah

mitos-sejarah-purbalingga
mitos-sejarah-purbalingga

Cerita asal mula Cibuek di Desa Majatengah, Kemangkon, Purbalingga

DOLAN PURBALINGGA – Setiap desa memiliki cerita legenda yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Termasuk juga Desa Majatengah yang berada di Kecamatan Kemangkon, Purbalingga.

Di Desa Majatengah ada cerita tentang asal mula Cibuek. Menurut Braling.com, dahulu kala Cibuek merupakan tegalan sawah, tetapi sekarang Cibuek merupakan pedukuhan.

Masyarakat di Desa Majatengah masih menganggap Dukuh Cibuek sebagai tanah keramat. Lokasi tegalan itu telah menjadi tanah perdikan atau tanah yang tidak dipungut pajak.

Kisah asal mula Cibuek berawal dari zaman Kadipaten Wirasaba masih berdiri. Di bagian timur Desa Majatengah Kiai Gede Buara dan istrinya. Mereka berdua merupakan petani.

Tegalan yang dikelola oleh pasangan petani itu menjadi tanah subur, sehingga hasil tanamnya melimpah, cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Di rumah petani itu tinggal pula seorang pemuda.

Sebenarnya pemuda itu adalah Raden Jaka Katuhu. Ia menyamar sebagai seorang peminta-minta. Karena merasa iba, maka pemuda itu lalu disuruh tinggal dirumah Kiai Gede Buara.

Raden Jaka Katuhu ialah putera sulung Raden Baribin asal Majapahit yang menjadi raja di Pajajaran. Raden Baribin memerintahkan Jaka Katuhu agar mengembara ke timur dan mengabdi kepada orang yang membantunya.

Di wilayah Kadipaten Wirasaba, Raden Jaka Katuhu bekerja di ladang, membantu menanam berbagai macam tanaman yang bisa menghasilkan termasuk karang kitri

Tetapi setiap pulang kerumah Jaka Katuhu tidak mau berjalan bersama Kiai Gede Buara, ia selalu pulang belakangan. Kiai Gede Buara pun merasa aneh dengan perilaku Jaka Katuhu.

Suatu sore, Kiai Gede Buara mencoba menyelidikinya. Di ladang, ia melihat api berkobar. Ternyata, Raden Jaka Katuhu tiba-tiba melompat masuk kedalam kobaran api tersebut.

Kiai Gede Buara cemas. Tetapi, tak lama kemudian kecemasan itu hilang dan berubah menjadi keheranan. Sebab, tiba-tiba Raden Jaka Katuhu keluar dari kobaran api dengan penampakan yang lebih bercahaya.

Karena kejadian itu, tegalan yang digarap Kiai Gede Buara dikenal dengan sebutan Cibuek. Luas tegalan itu sekitar setengah Hektar, diatasnya tumbuh 25 dapuran pring dari berbagai macam jenis.

Sejarah Mitos Setu Pahing di Purbalingga

sejarah-purbalingga

DOLAN PURBALINGGA – Masyarakat di Kecamatan Kemangkon dan Bukateja mengenal adanya mitos “dina setu pahing“. Sebuah mitos yang menjadi bagian dari sejarah di Purbalingga.

Dina Setu Pahing artinya Sabtu Pasaran Pahing. Mitos ini masih dipercaya oleh masyarakat di Purbalingga dan sekitarnya. Masih banyak orang yang meyakini Sabtu pahing begitu sakral.

Mitos ini bermula pada abad XVI. Awal ceritanya, Adipati Wirasaba Wargatuma I mengawinkan putrinya, Rara Sukartiyah. Putri yang masih belia itu dinikahkan dengan Bagus Sukara, anak Ki Gede Banyureka. Ki Gede Banyureka adalah Demang Toyareka (sekarang masuk wilayah Kec. Kemangkon).

Ternyata, Rara Sukartiyah dan Bagus Sukara tidak mengalami kecocokan. Rara Sukartiyah tidak bersedia memberikan palayanan batin kepada suami. Akhirnya, Bagus Sukra memutuskan untuk kembali kerumah orang tuanya di Toyareka.

Ki Gede Banyureka marah atas kepulangan Bagus Sukra. Demang Toyareka itu menuduh Adipati Wirasaba tidak bisa mendidik putrinya sehingga keluarga anaknya tidak harmonis.

sejarah-purbalingga

ilustasi putri ayu dari tlatah Wirasaba (sumber: google)

Nah, suatu ketika, Sultan Pajang R Hadiwijaya meminta upeti seorang gadis untuk dijadikan selir atau penari kesultanan. Sultan Pajang pun meminta upeti kepada Adipati Wargautama I.

Sebagai lambang kesetiaannya, Adipati Wargautama I menyerahkan Rara Sukartiyah kepada Sultan Pajang. Ia mengatakan bahwa puterinya itu masih dalam keadaan perawan. Selesai menghaturkan segera ia beranjak meninggalkan pendopo kesultanan.

Namun, tidak lama kemudian, Ki Gede Banyureka bersama Bagus Sukra menghadap Sultan. Kedua orang ini bercerita kalau Rara Sukartiyah yang baru diserahkan ke Sultan adalah istri dari Bagus Sukra.

Mendengar cerita itu, Sang Sultan marah. Ia merasa dibohongi. Tanpa pikir panjang, Sultan mengutus prajurit untuk memburu Adipati Wirasaba yang belum lama meninggalkan pendopo.

Setelah Ki Banyureka dan Bagus Sukra pamit, dipanggilah Rara Sukartiyah untuk dimintai keterangan. Dengan tenang Rara menjelaskan dan mengakui bahwa dirinya masih menjadi istri Bagus Sukra, tetapi sejak mulai menikah belum pernah melakukan hubungan suami istri.

Setelah mendapat penjelasan dari selir barunya itu, Sultan tersadar bahwa keputusanya mengutus gandek terlalu tergesa-gesa tanpa menyelidiki kebenaran informasi dari Ki Gede Banyureka. Akhirnya diutus lagi prajurit untuk menyusul prajurit pertama guna membatalkan hukuman mati.

Sementara itu, Adipati Wirasaba sudah sampai di Desa Bener. Ia berisitirahat di sebuah rumah balai malang sambil makan hidangan nasi dan lauk daging angsa. Balai malang adalah rumah yang pintu depannya di bawah pongpok.

Tiba-tiba datanglah seorang prajurit pajang dengan tombak di tangan siap membunuhnya. Tentu saja sikap prajurit Pajang itu menjadi kejutan bagi Adipati Wirasaba.

Kemudian, terdengar orang berteriak dari kejauhan. Prajurit itu menoleh kearah suara itu, terlihat rekannya melambaikan tangan. Tanpa pikir panjang ditusukan tombak itu kepada Adipati Wirasaba, sehingga korban jatuh terkapar berlumuran darah. Peristiwa ini terjadi bertepatan dengan hari Sabtu Pahing.

Setelah sama-sama mengerti bahwa lambaian tangan tadi sebenarnya merupakan isyarat, agar pembunuhan dibatalkan, kedua prajurit yang diutus Sultan Pajang itu sangat menyesal.

Sesaat sebelum menemui ajalnya Adipati Wargatuma I konon sempat memberi pesan, agar orang-orang Banyumas sampai turun-temurun jangan berpergian di Sabtu Pahing, jangan makan daging angsa, jangan menempati rumah balai malang dan jangan menaiki kuda berwarna dawuk bang.

Karena menurutnya dapat mendatangkan malapetaka. Adipati juga berpesan agar orang-orang Wirasaba tidak dikawinkan dengan orang Toyareka. Pesan-pesan tersebut dijadikan prasasti pada makam Adipati Wirasaba dan menjadi kepercayaan turun temurun.

Merujuk pada Buku Babad dan Sejarah Purbalingga yang ditulis Tri Atmo, jenazah Adipati Wargautama I dimakamkan di Desa Klampok, Kabupaten Banjarnegara dan dikenal dengan sebutan makam Adipati Wirasaba.

Baca sumbernya di Braling.comMitos Setu Pahing