Gardu Siwarak 2

Tahukah Kamu Dua Gardu Jaga ini Adalah Saksi Bisu Zaman Kolonial di Purbalingga

sejarah-di-purbalingga
(sumber: @desa_wisata_siwarak)

DOLAN PURBALINGGA – Konon, Purbalingga merupakan salah satu kawasan yang cukup strategis pada era masa cultuur stelsel diberlakukan. Banyak wilayah di Kota Perwira ini yang digunakan sebagai area tanam komoditas penting.

Oh iya, mbok pada lupa pelajaran sejarah nih yah. Pada era cultuur stelsel, ada aturan Gubernur Jenderal van den Bosch yang mewajibkan setiap desa menyisihkan 20% tanahnya untuk ditanami komoditi yang laku di pasar ekspor.

Salah satu pertanda eksisnya masa tanam paksa di Purbalingga ialah keberadaan gardu jaga. Sebagai informasi, istilah “gardu” itu kabarnya berasal dari bahasa Prancis yakni “garde” yang artinya pos jaga.

Purbalingga disebut-sebut memiliki 6 gardu jaga. Ada gardu jaga di Desa Onje, Kecamatan Mrebet, Desa Batur Kecamatan Karanganyar, Desa Tlahab Lor, Desa Serang dan desa Siwarak, yang ketiganya ada di Kecamatan Karangreja.

Sayangnya, kini hanya tersisa dua gardu jaga. Yakni yang ada di Desa Siwarak dan Tlahab Lor. Gardu di Bobotsari sudah hancur karena ditabrak pemudik pada 2004 lalu. Sementara gardu di tiga desa belum bisa dipastikan lokasinya.

Kali ini, kita belajar sejarah Purbalingga tentang eksistensi gardu jaga lewat tulisan Anita Wiryo Rahardjo di blognya. Yuh mandan dipenthelengi sit.

wisata-sejarah-purbalingga
(sumber: langgamlangitsore.blogspot.com)

Gardu Siwarak

Gardu ini berada di Desa Siwarak, persisnya di dekat Obyek Wisata Goa Lawa. Gardu di Siwarak ini memiliki lebar 240 cm, panjang 250 cm, tinggi 360 cm. Ada pintu lengkung busur di bagian atas, serta jendela lengkung kanan kiri yang lebih kecil dari lengkung di pintu.

Di gardu ini juga ada besi yang melintang di langit-langit. Diperkirakan besi-besi ini berfungsi sebagai alat timbangan hasil perkebunan yang akan disetorkan ke Bobotsari.

wisata-sejarah-purbalingga
(sumber: search google.com)

Gardu Tlahab Lor

Gardu jaga di Tlahab Lor serupa wujudnya dengan gardu jaga di Siwarak. Atap lancip dan pintu melengkung. Namun, menurut data di dinas terkait, ada beda ukuran diantara keduanya.

Gardu di Tlahab Lor ini lebih lebar namun tak lebih tinggi dari gardu di Siwarak. Luasannya adalah 260 cm × 246 cm. Sedangkan tingginya 290 cm dengan lebar atap 285 cm. Tapi belum diketahui apa pengaruh perbedaan ukuran ini terhadap fungsi masing-masing gardu.

Itulah sedikit cerita sejarah di Purbalingga. Terumata soal peninggalan-peninggalan di era kolonial dulu. Oh iya, dua gardu itu dan juga gardu jaga di Bobotsari sudah termasuk benda cagar budaya alias BCB loh.

Sayang seribu sayang nih. Banyak yang nggak mengerti kalau gardu-gardu ini adalah saksi bisu era kolonial di Purbalingga. Jadi banyak yang suka nongkrong nggak jelas bahkan cuek saja buang air kecil di situ. Jadi sedih.

Ayo dong generasi muda Purbalingga lebih perhatian sama tempat tinggal kita. Termasuk dengan benda-benda cagar budaya. Meski cuma bagian dari sejarah, kan tetapi harus kita jaga.

Katanya, Jas Merah. Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Ya kan? Ya kan!

1 Comment

  1. […] BACA YUK: TAHUKAH KAMU DUA GARDU JAGA INI ADALAH SAKSI BISU ZAMAN KOLONIAL DI PURBALINGGA […]

Leave a Comment

Your email address will not be published.